KONTESTASI POLITIK PILPRES 2019 DI MEDIA SOSIAL (Telaah Konsep Echo Chamber)

S. Arifianto

Abstract

Secara harfiah echo chamber adalah ruang tempat mendengar apa yang kita teriakkan tanpa memperhitungkan kondisi realitas disekitarnya. Demikianlah analogi sederhana dari makna echo chamber yang sekarang banyak dibahas terkait dengan kontestasi budaya politik pilpres 2019, melalui media sosial. Meski demikian efek yang ditimbulkannya bisa berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam berpolitik. Pada   satu sisi kehadiran media sosial, dapat mengatasi beberapa hambatan komunikasi sosial yang disebabkan masalah geografis. Artinya, kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja  tentang apa saja, dengan siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun pada sisi yang lain media sosial juga berdampak negatif, dan membawa bencana bagi kita semua. Meski demikian media sosial masih dipercayai bisa menghadirkan pandangan yang lebih seimbang tentang dunia. Memang ada kekhawatiran bahwa media sosial hanya menyedot orang-orang kedalam kelompok-kelompok yang homogen atau sepandangan sama tentang suatu hal tertentu. Disamping itu juga ada orang-orang yang terjauhkan dari informasi-informasi yang berbeda dengan pandangannya. Kekhawatiran semacam itu disebut echo chamber (ruang gema), yang secara konseptual hanya mendengar apa yang diteriakan sendiri.  Meski jutaan orang diluar sana menggunakan internet dan teknologi informasi digital untuk memperluas wawasannya, tetapi masih banyak orang melakukan  justru sebaliknya. Artikel ini pembahasannya fokus pada fenomena efek echo chamber  terhadap kontestasi politik masyarakat kedua kubu pendukung Prabowo-Sandi, dan Jokowi-Ma’ruf dalam  Pilpres tahun, 2019 di media sosial.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.