WACANA MEDIA MASSA TENTANG KEIKUTSERTAAN UNJUK RASA KEPALA DAERAH MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM

Karman Karman

Abstract

Government’s initiative to r

 

aise fuel price on April 1, 2012 was faced with demonstration in a number
of  regions.  In  fact,  local  goverenment  heads  mobilized  the  people  and  led  a  demonstration.  Their
involvement in the demonstration made the news, evoked polemic and discourses in mass media. This
writting dealt with mass media discourses regardingthat issue. This research’s used method of social
semiotic as introduced by Halliday. That method consists of three aspects: 1) Field of discourse (what
mass media’s discourse);  2)  Tenor of discourse  (persons  on the news,  their characters,  positions, and
roles;  3)  Mode of discourse  (how to describe field and tenor of discourse).  This research shows that
discourses on media are divided into three groups: first, discourse of law & ethics violation conducted
by local government heads. Second, discourse of no-law & ethics violation. Third, discourse of no-law
violation but ethics disrespectfullness. Discourseson media which were involved in heated fight were
propalace discourse versus opponent media. Propalace discourse always referred to resources from
palace’s  insiders.  Opponent  media  used  politicians, critics  as  their  resources.  Those  two  opposing
groups of media harnessed language to legitimate their own argument, and delegitimate discourse in
contrasting.
 
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM 1 April 2012disambut aksi unjuk rasa di berbagai daerah.
Kepala daerah bahkan menggerakkan massa dan memimpin jalannya unjuk rasa. Keikutsertaan mereka
dalam unjuk rasa menjadi pemberitaan media massa, menimbulkan polemik dan pertarungan wacana
di  media  massa.  Tulisan  ini  membahas  wacana  media  massa  tentang  isu  di  atas.  Penelitian  ini
menggunakan  metode  Semiotika  Sosial  Halliday.  Metode  ini  terdiri  dari  tiga  komponen:  1)  Medan
Wacana  (apa  wacana  media  massa);  2)  Pelibat  Wacana  (orang-orang  yang  dicantumkan  dalam  teks
berita,  sifat,  kedudukan,  dan  peranan  mereka;  3)  Sarana Wacana (cara  menggambarkan  medan,  dan
pelibat wacana). Temuan penelitian menunjukkan bahwa wacana media massa terkategori menjadi 3
(tiga).  Pertama,  wacana adanya pelanggaran hukum dan etika yang dilakukan kepala daerah.  Kedua,
wacana tidakadanya pelanggaran hukum dan Etika. Ketiga, wacana  tidak adanya pelanggaran hukum,
namun ada pelanggaran etika. Wacana media yang sengit bertarung adalah wacana yang proistana dan
media oposan. Wacana media yang proistana selalu merujuk sumberberita yang berasal dari lingkaran
istana. Media  oposan  menjadikan politisi dan para pengamat sebagai sumber berita. Kedua kubu ini
menggunakan  bahasa  untuk  melegitimasi  argumen  mereka  masing-masing,  dan  mendelegitimasi
wacana yang berseberangan.


Keywords


Discourse; Social Semiotic; Mass Media.


References

Adi, Rio. 2012. Dua Wawali Lawan Mendagri. Jawa Pos, Maret 28.

Chairullah, Emir. 2012. Kepala Daerah Tolak Penaikan Harga BBM. Media Indonesia, Maret 27.

Denzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. 2005. Handbook of Qualitative Research. London: Sage

Publication.

Eriyanto. 2002. Analisis Framing Konstruksi, Ideology dan Politik Media. Yogyakarta: LkiS

Fauzi, Arifatul. 2003. Wacana Terorisme dalam Media: Framing Analisis Pemberitaan Harian Kompas

dan Republika dalam Peristiwa Peledakan Bom di Bali. Master Thesis, Universitas Indonesia.

Gubernur Belum Terima Surat Teguran. Media Indonesia, 31 Maret 2012.

Halliday, M.A.K., Ruqaiya Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks, Aspek-Aspek Bahasan dalam

Pandangan Semiotik Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hamad, Ibnu. 2007. Analisis Wacana (Discourse Analisis) Sebuah Pengenalan Awal. Diktat

Perkuliahamn Methode Penelitian Komunikasi Kulaitatif, PPS MIK UPDM (B) Jakarta.

Hoed, Benny H. 2011. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya Ferdinand de Saussure, Roland Barthes,

Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sander Peirce, Marchel Danesi & Paul Perron, dll.

Edisi kedua. Depok: Komunitas Bambu.

Kepala Daerah Tak Melanggar. Kompas, 29 Maret 2012.

Littlejohn, W. Stephen. 2008. Theories of Human Coomunication. Belmont-Toronto: Wadsworth

Publishing Company.

Mendagri Kirim Surat Teguran, Kepala Daerah Menantang. Media Indonesia, 29 Maret 2012.

JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA WACANAMEDIA MASSA......

(Vol. 16 No. 2 (Juli – Desember 2012)

Ritzer, George. 2005. The Postmodern Of Social Theory. Dalam Teori Sosial Postmodern. Muhammad

Taufik, Penerjemah. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Rusadi, Udi. Ideologi Dan Media dan Ideologi Dalam Media: Tinjauan Teoritis, Konseptual dan

Metodologis. www.balitbang.depkominfo.go.id/.../IDEOLOGI% diakses tanggal 31 Oktober

Sam. 2012. 21 Kepala Daerah Tolak BBM Naik. Jawa Pos, Maret 30.

Schwandt, T. A. 1994. Constructivist, Interpretivist Approaches to Human Inquiry. In Handbook of

Qualitative Research, Ed. Lincoln, 118-137. California: Sage Publication.

Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta: LkiS.

Sumariyadi, Sugeng. 2012. Kepala Daerah pun Pimpin Demonstrasi. Media Indonesia, Maret 28.

Tajuk. 2012. Wakil Wali Kota Memimpin Demo. Jawa Pos, Maret 29.

Widyasari. 2012. Kepala Daerah Mestinya Sadar Posisi. Jurnal Nasional, 28 Maret.

Y, Maria., Febriyan, Istman MP, Jobpie S, Kukuh, Ananda. 2012. Kepala Daerah Ikut Demo BBM

Dinilai Langgar Sumpah. Koran Tempo, Maret 28.

Y, Maria., Febriyan, Istman MP, Jobpie S. 2012. PDIP Mainkan Politik Jalanan. Koran Tempo, Maret

Zen, Fathuruin. 2004. NU Politik Analisis Wacana Media. Yogyakarta: LkiS.

Kepala Daerah Dievaluasi. Kompas, 30 Maret 2012.




DOI: http://dx.doi.org/10.31445/jskm.2012.160203

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




  Find us at Crossref   Portal Garuda   Sinta (Science and Technology Index)
Google Scholar

Creative Commons License
__This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.